Minggu, 12 Juni 2016

Malin Kundang

Malin Kundang
Malin Kundang
Malin Kundang, adalah sebuah cerita rakyat yang berasal dari daerah sumatra barat. Didalam kisah di ceritakan tentang seorang anak yang durhaka dengan ibunya dan dia dikutuk menjadi batu. Mau tahu kisah lengkapnya, langsung saja admin akan mengulasnya dalam tulisan. Yuk mari disimak dan dibaca.

Malin Kundang

Pada jaman dahulu kala, di salah satu pesisir di daerah sumatra barat hiduplah seorang ibu dengan seorang anak lelaki semata wayangnya, anak itu bernama malin kundang. Mereka hidup dengan keadaan yang serba kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, ibu itu setiap harinya bekerja sebagai pencari ikan untuk lauk. Dan mencari kayu bakar ke hutan untuk kemudian dijual untuk dibelikan beras. Dan tentunya ibu tersebut dibantu oleh si malin kundang.

Suatu ketika, pada saat malin kundang sedang mencari kayu bakar di hutan bersama ibunya, dia bertanya kepada ibunya :
Malin Kundang : Ibu, sebenarnya ayah malin masih hidup atau tidak?
Lalu ibu malin kundang menjawab.
Ibu : Entahlah anakku, dahulu ketika ibu mengandungmu, ayahmu pergi berlayar ke negeri seberang untuk mencari nafkah dengan harapan bisa mendapatkan rejeki yang lebih banyak. Tetapi nyatanya sampai sekarang ayahmu tidak pulang dan tidak ada kabarnya.
Malin Kundang : Kenapa tuhan tidak adil dengan kita ya bu? Kenapa kita dijadikan orang miskin yang serba kekurangan.
Ibu : Nak, kamu tidak boleh bilang begitu, tuhan itu selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hambanya. Biarpun itu pahit bagi kita, kita harus yakin bahwa itu adalah yang terbaik diberikan tuhan kepada kita.
Malin Kundang : Ibu, Malin sayang banget sama ibu. Malin tidak tega setiap saat melihat ibu bekerja keras. Malin berjanji ibu, kelak jika malin sudah dewasa, Malin akan bekerja keras agar kita bisa menjadi orang kaya. Agar ibu bahagia. Malin bersumpah ibu!
Sang Ibu tidak kuasa menahan sedih tangis bahagia ketika mendengar sumpah serapah yang diucapkan oleh Malin Kundang.
Ibu : Amin! Ibu turut mendoakan Nak, Mudah-mudahan tuhan mendengar doa kamu, Doa Kita.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Akhirnya Malin kundang mulai beranjak dewasa. Teringat akan sumpahnya semangat malin kundang untuk bekerja keras semakin berapi-api. Pada suatu ketika, ada satu kapal yang sangat besar milik seorang saudagar kaya mampir di pelabuhan dekat dengan tempat tinggal Malin kundang dan ibunya. Kebetulan saudagar tersebut sedang mencari tenaga kerja untuk dipekerjakan menjadi anak buah kapal. Seleksipun dilakukan untuk mendapatkan pemuda desa yang kuat dan terampil. Singkat cerita malin kundang lolos seleksi untuk menjadi anak buah kapal sang saudagar.

Setelah malin kundang diterima oleh sang saudagar, dengan perasaan bahagia, senang dan sedih segeralah malin berpamitan kepada ibunya.
Malin Kundang : Ibu, alhamdulillah doa kita terkabul ibu. Malin lolos seleksi untuk bekerja di kapal saudagar kaya. Untuk itu malin pamit untuk berlayar ibu?
Ibu : (Dengan berlinang air mata) Alhamdulillah! Terimakasih tuhan. Nak, meskipun berat bagi ibu untuk melepasmu, tapi itu semua cita-citamu nak. Buat masa depanmu. Pergilah nak! Pesan ibu jangan lupa beribadah kepada tuhanmu dan jangan lupa dengan ibumu nak! Kalau kamu ada waktu sempatkanlah pulang untuk menengok ibu. Ibu tidak mengharap harta yang banyak nak, Ibu cuma berharap kamu tetap sehat dan tidak lupa dengan ibu.
Setelah mendapat ijin dari ibunya, segeralah malin bergegas mengemasi pakaian dan bekalnya untuk berlayar bersama sang saudagar.

Dengan kebiasaan bekerja keras, tidak menjadi soal bagi malin kundang bekerja berat di kapal sang saudagar. Di kapal malinkundang sangat disiplin dan rajin bekerja. Diam-diam ternyata sang saudagar memerhatikan setiap aktifitas Malin kundang. Selain dia rajin bekerja, paras wajahnya juga tampan. Singkat cerita Malin kundang dijodohkan dengan putri sang saudagar yang cantik jelita. Mereka pun hidup dengan sangat bahagia. Dalah hidupnya yang bahagia bergelimang harta, malin kundang benar-benar lupa akan janji dan sumpahnya.

Berbeda dengan kehidupan malin kundang yang kini bergelimang harta, Ibu malin yang hidup dipesisir seperti biasanya masih hidup dalam kekurangan. Dalam hari-harinya beliau senantiasa berdiri di tepi pantai berharap sang anak Malin kundang kembali agar terobati rasa rindunya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun sang ibu tidak bisan-bosannya berdoa dan setiap saat berdiri di tepi pantai untuk menantikan kepulangan Malin.

malin kundang
malin kundang
Akhirnya doa ibu pun terkabul, kapal milik malin kundang dan istrinya mampir sekedar berlabuh di pantai yang dulunya adalah tempat tinggalnya. Para warga pun berbondong-bondong untuk menyaksikan kapal mewah milik malin kundang. Ketika itu ada seorang warga yang datang kerumah ibu malin kundang untuk memberikan kabar bahagia bahwa malin kundang telah pulang. Dengan perasaan bahagia kemudian ibu malin kundang bergegas ke pantai untuk menemui anaknya.

Setelah bertemu dengan malin kundang akhirnya dengan perasaan bahagia sang ibu mendekati dan memeluk malin kundang seraya menangis bahagia dan berkata :
Ibu : Alhamdulillah nak, setelah bertahun-tahun kamu tidak pulang, akhirnya kamu pulang juga nak. Ibu kangen sekali sama kamu nak, dan alhamdulillah apa yang kamu cita-citakan akhirnya terkabul. Akhirnya kamu bisa menjadi orang kaya nak.
Dipeluk oleh ibunya tidak membuat Malin kundang bahagia dan senang. Dia merasa malu dengan istri dan mertuanya, dia tidak mau mertua dan istrinya tahu kalau dia adalah berasal dari keluarga yang miskin.
Malin Kundang :(Sambil mendorong sang ibu sampai terjerembab) Hai perempuan tua, Kamu ini siapa? aku tidak mengenalmu. Berani-beraninya kamu ini mengaku sebagai ibuku.
Istri Malin Kundang : Kakanda, memang perempuan ini siapa? Kok dia mengaku-ngaku sebagai ibu kamu.
Malin Kundang : Dinda, kanda tidak tahu. Biasa dinda orang miskin, kerjaannya mengaku-ngaku sebagai anaknya. Paling tujuannya biar dia diberi uang yang banyak olehku.
Ibu : Masyaallaah nak, Ini ibumu, yang melahirkan kamu, yang merawat kamu dari kecil sampai dewasa nak. Getir pahit ibu jalani untuk membesarkanmu nak. Apa kamu lupa nak?
Malin Kundang : Bukan, aku tidak memiliki ibu yang jelek, tua renta dan miskin sepertimu!
malin kundang
Malin Kundang
Dengan perasaan hati yang hancur berkeping keping sang ibu coba untuk terus memohon dan mengingatkan kepada Malin bahwa dia ibunya. Akan tetapi malin tetap keras kepala dengan keangkuhan dan kesombongan mempertahankan egonya karena dia malu dengan keluarga istrinya. Akhirnya dengan perasaan sakit hati yang mendalam sang ibu berdoa kepada tuhan untuk mengutuk anaknya yang durhaka.
malin kundang dikutuk ibunya
malin kundang dikutuk ibunya
Sambil menengadah kelangit, mengangkat kedua tangannya ke atas, ibu malin kundang memanjatkan doa kepada tuhan :
Ibu : Ya allah, hambamu mohon ingatkanlah anak hamba malin kundang dengan azabmu. Atas ijinmu ya allah hamba kutuk anak durhaka ini menjadi batu!
Seketika langit menjadi gelap, disertai angin kencang dan petir yang menyambar nyambar, Ombak laut menjadi besar dan bergulung-gulung. Akhirnya Malin kundang tersadar bahwa dia telah menjadi anak yang durhaka. Telah melupakan janji dan sumpah yang telah dia ucapkan kepada ibunya.
Malin kundang : (Sambil menangis histeris) Ibu, Ibu aku minta maaf ibu. Aku mohon maafkan anakmu ini ibu. Kekayaan dan istri cantik sudah membuat anakmu ini menjadi lupa diri. Lupa akan sumpah dan janjiku kepada ibu. Aku mohon ibu, ampuni semua kesalahan dan kekhilafanku! Ampun  Ibu!
Namun semuanya sudah terlambat, perlahan-lahan tubuh malin kundang berubah menjadi batu. Nah, sekian dulu cerita rakyat tentang anak durhaka malin kundang. Tentunya masih banyak cerita rakyat yang lain, tetap di www.dongenganak84.blogspot.com ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar